Minggu, 06 Maret 2011

Taksonomi Tumbuhan Rendah


Taksonomi Tumbuhan Rendah
Disusun
O
L
E
H
Nama   :
Ari majelisa Wati                     7106050401
Deci Handayani Batubara        7106050402
Elvina                                       7106050246
Ricca Ayu Sasmita                   7106050351
Siti Khairatun Nisa                   7106050253


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA
MEDAN
2007

Daftar isi

Daftar isi
Kata pengantar
Monera
Protista
Fungi
Plantae
Animalia
Gambar antara Monera, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia
Keterangan hubungan antara Monera, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia




















Kata Pengantar

            Puji syukur kita panjatkan kehadiran Allah SWT atas terselesainya tugas mata kuliah “Taksonomi Hewan Rendah“. Dan shalawat beriring salam kita panjatkan kepada nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat ini.
            Disini kami akan membahas tentang “Lima Klasifikasi Makhluk Hidup”. Tugas ini dibuat agar dapat berguna bagi setiap pembaca, walaupun di dalam masih banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk ini kami harapkan saran dan kritik dari pembaca atau dosen agar kedepannya lebih baik.
            Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.



Medan,22 Oktober 2007

            penulis













Salah satu klasifikasi makhluk hidup yang paling terkenal, dan sampai saat ini masih dianggap paling representatif adalah klasifikasi makhluk hidup hasil karya Robert H. Whittaker pada tahun 1969.Whittaker mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi lima kingdom :

1.MONERA
            Kingdom Monera merupakan kelompok makhluk hidup bersel tunggal prokariotik, kelompok tersebut dikenal sebagai sel hidup yang paling sederhana karena semua anggotanya tidak mempunyai membran inti.Monera berkembangbiak secara aseksual, motil dan bergerak menggunakan flagel.Yang termasuk anggota kelompok monera adalah bakteri dan ganggang biru.
  1. Bakteri
            Bakteri merupakan mikrorganisme bersel tunggal prokariotik yang paling sederhana, hidup bebas dan terdapat dimana-mana. Pada umumnya, sel bakteri berbentuk bulat,batang dan spiral dan  berkembang biak secara seksual dan aseksual.Bakteri bersifat autotrof dan heterotrof.
  1. Ganggang Biru
Ganggang biru merupakan ganggang yang paling sederhana dan bersel tunggal.Struktur tubuhnya masih sederhana dan bersifat autotrof. Ganggng biru tidak dapat bergerak karena tidak mempunyai flagel yang berkembang biak secara vegetatif namun ada sebagian dengan cara fragmentasi dan pembentukan spora.

2.PROTISTA
            Kingdom Protista merupakan kelompok makhluk hidup bersel tunggal eukariotik atau kelompok makhluk hidup yang bersel tunggal kompleks.hidupnya secara berkoloni dan berkembang biak secara seksual dan aseksual .Protista mempunyai flagel dan cilia. Protista mendapatkan makanandengan menyerap makanan dan beberapa melakukan fotosintesis atau mencerna makanan.
            Pengelompokan Protista menjadi terasa sulit karena jumlahnya yang begitu besar. Namun, menurut literatur terbaru yang saat ini digunakan oleh para ahli taksonomi, protista dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu sebagai berikut :
a.       Protista menyerupai tumbuhan (Ganggang)
b.      Protista menyerupai hewan (Protozoa)
c.       Protista menyerupai jamur

3.FUNGI
            Kingdom Fungi kebanyakan multiseluler dan berbentuk filamen dengan sel-sel kompleks.Tidak mempunyai flagel tetapi memiliki spora yang berperan dalam perkembangbiakan secara seksual dan aseksual. Secara aseksual dapat dilakukan dengan membentuk tunas, fragmentasi, dan spora aseksual. Reproduksi aseksual dapat terjadi dengan konjugasi.
            Jamur sangat berperan dalam kehidupan manusia. Dalam industri makanan, jamur dimanfaatkan dalam pembuatan tapai, roti, dan tempe.Tetapi, beberapa jenis jamur juga dapat merukan manusia. Jamur dapat menyebabkan penyakit pada manusia, hewan ternak, dan tanaman.
 Jamur dapat di kelompokan atas beberapa divisi, yaitu adalan sebagai berikut :
a.       Zygomycota
Dalam kehidupannya dikenal bentuk zigosporasebagai bentuk perkembangan lanjut dari zigot (hasil konjugasi).Contohnya, Rhizopus dan Mucor
b.      Ascomycota
Mempunyai spora aseksual atau konidia yang dihasilkan oleh konidispora. Sepora aseksual dibentuk dalam askus. Contohnya, Saccharomyces, Aspergillus, dan pinicillum.
                                    
c.       Basidiomicota
Kebanyakan bereproduksi secara aseksual. Spora seksual dihasilkan oleh suatu struktur jamur yang disebut basidium. Kelompok jamur ini memiliki tubuh buah (basidiokarp) yang besar. Contohnya, Volvariela volvacea, Auricularia polytricha, dan Amanita phalloides.
d.      Deuteromycota
Merupakan kelompok jamur yang hanya dikenal bereproduksisecara aseksual. Reproduksi seksualnya tidak diketahui. Contohnya, Epidermophyton floocosum, Helminthosporium oryzae, dan Candida albicans.
4.PLANTAE
            Kingdom Plantae bersifat multiseluler dengan sel-sel kompleks dan dinding selnya mengandung selulosa. Plantae mengalami pergiliran keturunan.Bersifat autotrof dengan melakukan fotosintesis.Yang merupakan kelompok Plantae adalah lumut,paku dan tumbuhan berbiji.
  1. Lumut
Lumut merupakan tumbuhan kecil tidak berpembuluh. Pendistribusian air berlangsung secara difusi. Lumut memperoleh air dan mineral dari substatnya melalui suatu struktur mirip akar yang disebut rizoid. Lumut dapat dikelompokan atas lumut hati, lumut tanduk, dan lumut daun atau lumut sejati.
  1. Tumbuhan Paku
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berpembuluh. Pada bagian organ tubuhnya ditemukan jaringan angkut xilem dan floem. Tumbuhan paku sudah mengalami diferensiasi dan akarnya berupa akar serabut.Tumbuhan paku mengalami metagenesis, yakni mengalami pergiliran antara generasi sporofit dan generasi gametofit.
  1. Tumbuhan Berbiji
Kebanyakan tumbuhan yang kita jumpai di sekitar lingkungan adalah tumbuhan berbiji (Spermatophyta). Karena menghasilkan biji sebagai alat reproduksi seksual Berdasarkan keadaan biji dapat dikelompokan menjadi gimnosperma (biji terbuka) dan angiosperma (biji tertutup). Berdasarkan jumlah keeping lembaga, angiosperma terbagi menjadi tumbuhan monokotil (satu keping lembaga) dan tumbuhan dikotil (dua keeping lembaga).Spermatophyta sangat bermanfaat bagi manusia contonya, Elaeis guineesis (kelapa sawit) sebagai bahan pangan sumber lemak.


5.ANIMALIA
            Kingdom animalia bersifat multiseluler dengan sel-sel kompleks.Umumnya bergerak aktif dan bersifat heterotrof dengan cara mencerna makanan. Animalia dapat beradaptasi diberbagai lingkungan baik laut, air tawar, kutup dan padang pasir. Animalia dibedakan atas dua kelompok utama Invertebrata dan vertebrata.
  1. Invertebrata
Bereproduksi secara seksual dan aseksual. Secara aseksual melalui fragmentasi, pertunasan, dan membelah diri. Sedangkan seksualnya dengan cara fertilisasi. Sebagai invertebrata mengalami pergiliran keturunan. Invertebrata dapat dikelompokan menjadi beberapa filum :
Ø  Polifera
Ø  Coelenterata
Ø  Platyhelminthes

Ø  Nemathelminthes
     


Ø  Annelida
Ø  Anthropoda

Ø  Mollusca

Ø  Echinodermata
Ø  Chordata (invertebrata)
  1. Vertebrata
Mempunyai tulang belakang (perkembangan lanjut dari notokorda). Mereka umumnya memiliki tubuh simitri bilateral, rangka dalam, dan berbagai alat tubuh. Vertebrata dikelompokan atas beberapa kelas :
Ø  Chondrichthyes
Ø  Osteichtyes
Ø  Amphibia
Ø  Reptilia
Ø  Aves
Ø  Mammalia








Keterangan Hubungan Antara Monera, Protista, Fungi, Plantae dan Animalia

  • Sistem klasifikasi dua kingdom
Animalia      tidak mampu membuat makanan dan dapat berpindah tempat secara        nyata.
Plantae         mempunyai sel yang mengandung selulosa dan mampu membuat makanan melalui fotosintesis.

  • Sistem klasifikasi tiga kingdom
Animalia      tidak mampu membuat makanan (heterotrof).
Plantae         mampu membuat makanan melalui fotosintesis (autotrof).
Fungi            mampu menguraikan hewan dan tumbuhan mati serta menyerapnya.

  • Sistem klasifikasi empat kingdom
Animalia      temasuk kelompok eukariotik karena selnya mengandung membran inti.
Plantae         termasuk kelompok eukariotik karena selnya mengandung membran inti.
Fungi            termasuk kelompok eukariotik karena selnya mengandung membran inti.
Monera         termasuk kelompok prokariotik karena tidak mengandung membran inti sel.

  • Sistem klasifikasi lima kingdom
Animalia      memiliki sel eukariotik dan heterotrof.
Plantae         memiliki sel eukariotik dan autotrof.
Fungi            memiliki sel eukariotik bersel banyak, menguraikan makanan dan menyerapnya.
Protista         memiliki sel eukariotik bersel tunggal, terdiri atas protozoa dan ganggang.
Monera         memiliki sel prokariotik, terdiri atas bakteri dan ganggang biru-hijau.

  • Sistem klasifikasi enam kingdom
Animalia      makhluk hidup yang tersusun atas sel
Plantae         makhluk hidup yang tersusun atas sel.
Fungi            makhluk hidup yang tersusun atas sel.
Protista         makhluk hidup yang tersusun atas sel.
Monera        makhluk hidup yang tersusun atas sel.

                     
















Kesimpulan

Kingdom

Organisasi
Cara Memperoleh Makanan
Ciri-Ciri Lain
Cakupan
Monera
sel tunggal sederhana, terkadang dalam untaian.
menyerap makanan, beberapa ada yang melakukan fotosintesis
prokariotik, perkembangbiakannya dengan aseksual, motil dan bergerak dengan flagel
bakteri dan alga biru
Protista
sel tunggal kompleks, terkadang dalam bentuk filamin, koloni
menyerap makanan, beberapa melakukan fotosinteis atau mencerna makanan
eukariotik, perkembangbiakannya secar seksual dan aseksual, mempunyai flagel dan cilia
protozoa, alga, beberapa jenis jamur lender
Fungi
kebanyakan multiseluler dan berbentuk filamen dengan sel-sel kompleks
heterotrof, dengan cara menyerap makanan
tidak mempunyai flagel, memiliki spora yang berperan dalam perkembangbiakan seksual dan aseksual
kapang dan jamur
Plantae
multiseluler dengan sel-sel kompleks
autotrof, dengan cara melakukan fotosintesis
eukariotik dengan jaringan yang telah berkembangbiak, terjadi pergiliran keturunan, dinding sel mengandung selulosa
lumut, paku, tumbuhan berbunga
Animalia
multiseluler dengan sel-sel kompleks
heterotrof,dengan cara menyerap makanan
eukariotik dengan jaringan yang telah berkembang biak, umumnya bergerak aktif
semua kelompok hewan mulai dari porifera sampai dengan mamalia









                                                                                                                                


















Daftar Pustaka

Salman M. Akhyar, 2003. BIOLOGI untuk SMU kls.I sem.I. Pontianak : Grafindo.
Tjitrosoepomo Gembong, 2003. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Sudjadi Bagod dan Siti Laila, 2004, BIOLOGI untuk kls I SMA semester pertama. Surabaya : Yudistira
Sudjadi Bogod dan Siti Laila, 2004, BIOLOGI untuk kls I SMA semester kedua.  Surabaya : Yudistira





















PENGAMATAN ANTI PREDATOR PADA Passer Montanus


PENGAMATAN ANTI PREDATOR PADA
Passer Montanus


D
I
S
U
S
U
N

OLEH

Nama      :     Siti Khairatun Nisa
NPM       :     7106050253
Jurusan  :     Pend.Biologi II-B ( sore )
B.Study   :     Ekologi Hewan
                  

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA
MEDAN
2007


I.JUDUL        :    PENGAMATAN ANTI PREDATOR PADA Passer montanus

II. TUJUAN  :      Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kewaspadaan dari burung gereja (Passer montanus) terhadap predator (dalam hal ini praktikan).


III.Tinjauan Teoritis         :
Interaksi adalah suatu hubungan antara satu species dengan species yang lain. Salah satu jenis interaksi adalah predasi, yaitu suatu hubungan makan dan dimakan antara satu organisme dengan organisme lain. Subjek dari predasi adalah predator (pemangsa) dan prey (mangsa). Predator memiliki suatu perilaku khusus dalam menjalankan interaksi tersebut misalnya, pada elang akan terbang rendah saat akan mulai menerkam mangsa, pada harimau yang akan mengendap-ngendap di semak.
Begitu pula prey memiliki kelakuan untuk mempertahankan diri terhadap pemangsa dengan meningkatkan kewaspadaannya, misalnya pada burung yang akan memberi peringatan dengan mengeluarkan suara, atau dengan menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri. Perilaku tersebut dalam ekologi dinamakan anti-predator, yaitu suatu bentuk kewaspadaan dari prey terhadap gangguan yang ditimbulkan dari luar (predator).
Prey menjadi waspada terhadap serangan predator dengan menggunakan sistem peringatan terhadap adanya predator. Respon prey terhadap sinyal yang diberikan oleh predator membuat prey bereaksi fleksibel terhadap beberapa tingkatan resiko predasi. Respon terhadap resiko predasi yang dilakukan oleh prey seperti menghindari predator dan tingkah laku melarikan diri merupakan hasil keputusan yang diambil prey, kedua hal ini telah dibuktikan melalui pengamatan yang dilakukan oleh para ahli ekologi.Keputusan yang diambil prey berdasarkan kepada
  1. Kemampuan prey untuk menilai keberadaan predator,
  2. Kemampuan prey untuk membedakan antara predator dan atau tingkatan resiko yang akan diberikan oleh predator,
  3. Satu atau lebih kebiasaan bertahan prey untuk memilih hubungan yang efektif dengan predator tertentu, dan
  4. Keberadaan hubungan timbal balik antara predator dan prey menjadi sangat penting untuk membuat suatu keputusan bagi prey.
Salah satu bentuk kewaspadaan terhadap gangguan (anti-predator) dapat dilihat pada burung gereja (Passer montanus). Burung gereja diambil sebagai objek pengamatan karena mudah ditemui di kota-kota dan desa-desa. Burung ini hidup secara berkelompok di sekitar rumah, gedung, dan berbagai macam habitat.

Teknik yang dipergunakan oleh prey untuk lari dari predator tergantung dari jenis perilaku predator yang ada. Dalam hal ini, para ahli ekologi mengidentifikasi empat metode mengenai larinya prey yaitu, 1) Lari berdasarkan jumlah atau waktu, 2) Lari berdasarkan ruang, 3) Lari berdasarkan ukuran, 4) dan Lari berdasarkan mekanisme pertahanan yang lain.
IV. Alat dan Bahan      :
  1. Burung gereja (Passeer montanus)
  2. Stopwatch
  3. Patokan besi dan kayu
  4. Alat tulis


V. Prosedur Percobaan :

  1. Teknik pegumpulan data yang dilakukan adalah menjelajahi daerah pengamatan hingga ditemukan individu dan kelompok burung gereja.
  2. Kemudian satu individu tersebut diikuti dan diamati selama 2 jam.
  3. Maka diperoleh data frekuensi burung menengok kanan-kiri dan mematuk, data jarak minimal burung gereja terhadap pengamat.
  4. Hitunglah jarak antara burung gereja dengan predator
  5. Lakukan hingga 10 kali pengamatan
  6. Karena data yang diperoleh merupakan hasil pengamatan dari 10 kelompok maka data dirata-ratakan dengan rumus :
    Rata-rata Jarak minimal = S jarak minimal
    S Pengamatan




















VI. Hasil dan Pembahasan
1.     Hasil

asd.png




2.     Pembahasan
Dalam praktikum anti predator, praktikan mengamati tingkah laku burung serta reaksi yang dilakukan ketika mereka merasa terancam. Perilaku tersebut dalam ekologi dinamakan anti-predator, yaitu suatu bentuk kewaspadaan dari prey terhadap gangguan yang ditimbulkan dari luar (predator).
Reaksi anti predator yang dapat diamati pada beberapa perilaku burung gereja ( Passer montanus ) diantaranya ketika burung menengok ke kanan dan ke kiri serta pergi menjauh ketika praktikan mendekati pada jarak tertentu. Sedangkan perilaku mematuk-matuk pada burung merupakan suatu tanda bahwa sikap kewaspadaan burung tersebut sedang rendah.
Ketiga perilaku tersebut dapat dijadikan indikator dalam mengamati tingkat kewaspadaan pada burung dalam menghadapi pemangsanya. Pengamatan dilakukan terhadap burung gereja (Passer montanus) yang terdapat di sekitar wilayah kampus Unpad Jatinangor. Burung ini dijadikan sebagai objek pengamatan anti predator dikarenakan mudah ditemukan berkelompok dan sudah beradaptasi dengan lingkungan dan keberadaan manusia sehingga praktikan dapat mengamati perilaku burung tersebut dengan jelas dalam jarak tertentu karena tingkat kewaspadaanya kurang.
Dari data yang diperoleh, didapat hasil bahwa frekuensi rata-rata burung secara individu melakukan tengokkan ke kanan dan ke kiri sebanyak 572,8 kali dalam 30 menit. Sedangkan frekuensi burung melakukan tengokkan ke kanan dan kekiri ketika mereka berada dalam kelompoknya sebanyak 322,3 kali dalam 30 menit pengamatan.
Perilaku burung menengok ke kanan dan ke kiri merupakan salah satu bentuk perilaku kewaspadaan dan antisipasi mereka terhadap gangguan serta keberadaan predator yang akan mengancam dirinya. Semakin sering burung menengok ke kanan dan ke kiri, semakin tinggi tingkat kewaspadaannya. Jika dilihat dari data pengamatan maka dapat terlihat bahwa frekuensi tengokkan burung ketika mereka berada sendiri (individu) lebih besar dibandingkan dengan frekuensi tengokkan yang mereka lakukan ketika mereka berada dalam kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa ketika mereka berada sebagai individu mereka memiliki tingkat kewaspadaan lebih tinggi dibandingkan ketika mereka berada dalam kelompoknya. Salah satu tekhnik prey untuk menghindari predator adalah dengan cara hidup di dalam kelompok sehingga akan mengurangi peluang bahwa suatu individu akan termangsa. Cara ini dikenal dengan prinsip ‘you first’.
Sebaliknya perilaku mematuk-matuk merupakan perilaku yang menunjukkan bahwa burung tersebut sedang tidak waspada. Dapat dikatakan bahwa tingkat anti predator atau kewaspadaan burung tersebut pada saat itu rendah. Dari data pengamatan diperoleh bahwa frekuensi rata-rata mematuk-matuk pada individu sebesar 557,1 kali dalam 30 menit, sedangkan frekuensi rata-rata mematuk-matuk ketika burung berada dalam kelompoknya adalah sebesar 339,1 kali dalam 30 meni
Hasil ini kurang sesuai dengan teori yang ada. Seharusnya frekuensi rata-rata burung mematuk-matuk dalam kelompok lebih besar dibandingkan dengan ketika burung sedang sendiri. Sebab ketika dia berada di dalam kelompoknya, burung akan merasa lebih aman, sesuai dengan prinsip ‘you first’. Dalam keadaan berkelompok burung lebih banyak mematuk karena lebih merasa terlindungi terutama yang berarda di lokasi sentral daripada yang di ujung / perifer.
Selain itu, ketika keberadaan burung hanya berupa individu tunggal, maka sebagian besar waktunya dipergunakan untuk memperhatikan keadaan lingkungan sekitar sebab dia hanya memiliki pertahanan tunggal (individu) sehingga dia dapat mewaspadai setiap gerakan predator yang akan menyerangnya.
Satu lagi perilaku anti predator pada burung adalah adanya ketika burung akan terbang menjauh apabila predator (dalam hal ini manusia) memasuki jarak yang menurut mereka membahayakan. Menurut teori yang ada, taktik ini merupakan taktik dasar yang umum digunakan oleh prey untuk menghindari predator.
Dari data pengamatan diperoleh bahwa rata-rata jarak minimum individu Passer montanus adalah 5,85 meter, sedangkan rata-rata jarak minimum dari kelompok Passer montanus adalah 4,75 meter.
Rata-rata jarak minimum individu lebih besar dibandingkan dengan jarak minimum ketika burung berada di dalam kelompoknya. Hal ini dikarenakan ketika berada di dalam kelompok, individu akan merasa lebih aman sebab memiliki pertahanan kelompok. Dalam hidup berkelompok, hewan dapat meningkatkan upaya untuk menghindari predator dengan membuat pertahanan kelompok yang lebih efektif dibandingkan dengan pertahanan individu tunggal.









VII. KESIMPULAN
  • Anti predator merupakan bentuk perilaku dari hewan untuk melindungi dirinya dari predator.
  • Perilaku anti predator yang menunjukkan tinggi randahnya tingkat kewaspadaan burung dapat terlihat dari frekuensi rata-rata tengokkan, frekuensi rata-rata mematuk-matuk dan rata-rata jarak minimum predator ke prey.
  • Frekuensi rata-rata tengokkan individu Passer montanus sebesar 572,8 kali dalam 30 menit, sedangkan frekuensi burung melakukan tengokkan ketika berada dalam kelompok sebanyak 322,3 kali dalam 30 menit pengamatan.
  • Frekuensi rata-rata patukan individu Passer montanus sebesar 557,1 kali dalam 30 menit, sedangkan frekuensi rata-rata patukan ketika burung berada dalam kelompoknya sebesar 339,1 kali dalam 30 menit.
  • Rata-rata jarak minimum dari individu Passer montanus sebesar 5,85 meter, sedangkan rata-rata jarak minimum dari kelompok Passer montanus adalah 4,75 meter.
  • Hewan akan merasa lebih aman berada di dalam kelompok (tingkat kewaspadaannya rendah) jika dibandingkan ketika mereka berada sebagai individu tunggal.
  • Antara prey yang satu dengan yang lain memiliki tekhnik anti predator yang berbeda tergantung dari jenis predatornya.